Mahasiswa Ilmu Komunikasi  Universitas Muhamamdiyah Magelang (UNIMMA) berpartisipasi aktif dalam menelusuri dimensi baru komunikasi melalui agenda Stadium Generale bertajuk “Mengungkap Potensi Diri melalui Art Therapy: Aplikasi Psikologis dan Komunikasi”, Rabu (8/4).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Kampus 1 ini menjadi istimewa dengan kehadiran pakar dari Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Amni Salsabila binti Sabli, B.A (Hons), M.Sc. Dalam forum yang diinisiasi oleh Fakultas Psikologi dan Humaniora (FPH) ini, mahasiswa diajak memahami bahwa seni bukan sekadar estetika, melainkan instrumen komunikasi jujur bagi individu yang sulit mengungkapkan perasaan secara verbal (unverbalized emotions).

Dalam paparannya, Puan Amni menjelaskan secara mendalam kerangka observasi untuk menerjemahkan simbol visual menjadi pesan psikologis.

“Seni adalah communication tool yang sangat kuat untuk melihat apa yang ada di batin seseorang. Kita boleh melihat indikator melalui pemilihan warna dan cara mereka menggoreskan pen atau pensil,” jelas Puan Amni. Ia merinci bahwa penggunaan warna cerah biasanya merepresentasikan energi positif dan stabilitas emosi. Sebaliknya, dominasi warna gelap (dark) yang tebal seringkali menjadi sinyal adanya tekanan emosional, kecemasan, atau tanda-tanda depresi yang memerlukan perhatian lebih serius.

Lebih lanjut, Puan Amni membongkar rahasia di balik Tekanan Garis (Pressure) sebagai bentuk komunikasi non-verbal.

“Apabila kita melihat goresan yang sangat tebal dan ditekan kuat, itu menandakan adanya tension atau kemarahan yang besar dalam diri individu tersebut. Manakala goresan yang sangat tipis dan ragu-ragu menunjukkan kurangnya keyakinan diri atau energi yang rendah,” tambahnya. Ia juga menjelaskan bahwa gambar yang diletakkan di sudut kertas sering kali bermakna penarikan diri (withdrawal), sedangkan gambar yang memenuhi seluruh ruang kertas menandakan adanya beban emosional yang berlebih (emotional overload).

Perspektif baru ini memberikan kesan mendalam bagi Miftakhul Wahyu Ragil Praditya, mahasiswa semester 6 Ilmu Komunikasi UNIMMA yang menjadi peserta aktif.

Ragil mengaku mendapatkan pengetahuan berharga tentang cara “menerjemahkan” perasaan manusia melalui karya seni. “Saya terkesan sekali karena awalnya saya pikir ini hanya karya seni biasa. Ternyata, art bisa menjadi media komunikasi yang luar biasa efektif. Kita bisa menerjemahkan perasaan psikologis seseorang hanya dari cara mereka menggambar. Ini adalah bentuk visual communication yang sangat jujur dan personal,” ungkap Ragil dengan antusias.

Ketua Progam studi Ilmu Komunikasi Lintang Mulaiawanti, S.I.Kom., M.A, menambahkan dengan adanya kuliah seperti ini temen-temen ilkom unimma mampu melihat pengaplikasian teknik komunikasi non verbal masukan sehingga dapat lebih peka dengan lingkungkan sekitar.

Melalui partisipasi dalam kegiatan ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIMMA diharapkan mampu mengaplikasikan teknik komunikasi non-verbal yang lebih empati di masa depan. Ujar Lintang.

Kemampuan untuk membaca pesan-pesan tersirat melalui media visual akan menjadi nilai tambah bagi mahasiswa dalam memahami audiens maupun klien secara lebih holistik. Dengan bekal ilmu art therapy ini, lulusan diharapkan tidak hanya andal dalam mengelola informasi publik, tetapi juga peka terhadap dinamika komunikasi interpersonal yang berbasis pada kesejahteraan psikologis.