Oleh. Moch. Imron Rosyidi.,S.I.K., M.Sc*
Ilmu komunikasi mendapat ruang tersendiri di era rervolusi teknologi informasi 4.0 ini. Merespon hal tersebut, ASPIKOM sebagai asosiasi tingkat nasional pendidikan tinggi ilmu komunikasi, mengemas acara rutinan setiap 3 tahun dengan konsep berbeda. Bertempat di Hotel Syariah Lor-Inn Solo 24-26 Juli 2019, acara kongres ASPIKOM kali ini mengambil tema “Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi di Era 4.0”.
Acara tersebut berurutan mulai dari, Semiloka, Call of Paper, Sharing Session di hari pertama. Kemudian dilanjutkan dengan Kongres dan Pemilihan Ketua ASPIKOM periode 2019-2022 pada hari kedua dan ditutup dengan clossing seremoni di hari ketiga. Jumlah pengelola program studi maupun utusan yang hadir di acara ini adalah sekitar 300 orang dengan 169 Pemilik suara penuh, dan beberapa rombongan.
Semiloka Merespon Tantangan Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi
Semiloka ini dimulai setelah registrasi pertama dan menjelang acara call of paper. Adapun pemateri dalam semiloka kali ini yang pertama adalah bapak Doni B.U., M.Si beliau adalah seorang Staf Ahli Menkominfo dibidang literacy digital. Beliau memaparkan pembangunan Palapa Rings atau yang biasa disebut Toll Langit hal itu merupakan respon pemerintah terhadap isu disruption. Beliau juga menjelaskan kasus-kasus yang menunjukkan kalau kita telat merespon akan semakin ketinggalan.
Sekedar contoh, beliau menunjukkan di Cina semua kegiatan jurnalistik atau Newsmaking sudah digantikan oleh mesin. Munculnya aplikasi pembuat berita, robot pembaca berita, serta WINDOWS membuat aplikasi Newscorrection membuat kegiatan industri Jurnalisme dari hulu hingga hilir akan digantikan oleh mesin. Maka tantangan yang harus diperhatikan bersama adalah skill apa yang harus dipertahankan atau dimunculkan untuk menghadapi itu semua.
Pembicara kedua adalah Retno Wulandari beliau adalah General Manager The Sunan Hotel Solo. Beliau menggambarkan bahwa ketika 10 tahun lalu seorang marketing officer suatu hotel/ perusahaan jasa harus membaca setidaknya 10 surat kabar untuk melihat ulasan dan citra perusahaan. Akan tetapi kini semua berbeda, untuk melihat track record perusahaan bisa di cek secara Realtime.
Seorang Public Relation Officer The Sunan bisa melihat dengan membaca #TheSunan di Twitter atau di ulasan maps, serta ulasan di ecommers seperti Traveloka dan MisterAladin. Publik kini lebih percaya pada influencer di dunia maya untuk mengulas dan memberi rekomendasi dari tiap produk. Seperti ketika kita membutuhkan refrensi wisata cukup melihat TripAdvisor. Sehingga pemilik-pemilik produk jasa akan harus mengundang reviewer maupun influencer tersebut ketika mangadakan Pers Conference atau jejaring media.
Pembicara ketiga adalah adalah Janu Arijanto, CEO Densu One, dan Member Forum Transformasi. Beliau memaparkan bagaimana pengelolaan prodi ilmu komunikasi harus memikirkan disruption yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi. Beliau memaparkan bahwa kultur masyarakat yang akan berubah sejalan dengan perkembangan teknologi ilmu komunikasi. Beliau menawarkan penguatan Skills of Sense.
Skills-skills basic yang harus dimiliki untuk melihat fenomena, seperti urban atropology,cultural studies akan membuat kita tidak akan kehilangan ruang sebagai pakar-pakar komunikasi. Jurnalistik sudah tidak lagi menayasar masyarakat secara luas tapi pada aproximity bahkan pada tataran yang sangat detil. Sehingga broadcasting bahkan telah berubah menjadi sebuah entitas baru yang disebut dengan Broadnett, dimana ini mendekati Audience dangat pendekatan jaringan komunikasi.
| Tema |
Realitas |
Tantangan/Solusi |
| Literacy Digital |
-Palapa Rings
-Robot-Robot baru
-Teknologi begitu Cepat
|
-Skills Komunikasi manusia akan digantikan mesin |
| PR Digital |
-Realtime information
–influencer newmedia
|
-Perubahan pola menenjeman informasi |
| Digital Culture |
-Bergesernya pola konsumsi informasi di publik
-Menakar kemanusiaan di era ini
|
–Skill of Sense
-Menumbukan peran humanisme sebagai kajian digital |
Tabel Ringkasan hasil Semiloka (Diolah, Penulis 2019)
Call Of Paper Pendidikan Tinggi di Era 4.0
Dalam sesi kali ini saya tergabung di panel ruang 4 dan memperesentasikan paper saya berjudul, Narasi Pemikiran Jurgen Habermas Sebagai Pijakan Alternatif Komunikasi Pembangunan Partisipatif. Saya mendapatkan kesempatan pertama untuk melakukan presentasi. Dimana inti presentasi saya adalah membangun wacana alternatif dalam pendekatan komunikasi pembangunan.
Respon beragam muncul, mulai pertanyaan soal ontologi hinga aksiologi konsep yang saya bawakan. Turut hadir dalam diskusi ini sebagai panelis adalah Prof. Burhan Bungin., Ph.D beliau mengkritik istilah-istilah baru tentang konsep komunikasi yang memang sangat multi disipliner. Dimana beberapa peresenter gagal menjelaskan konsep-konsepnya secara filosofis, seperti komunikasi bencana, komunikasi pariwisata, dan komunikasi maritim yang dainggap panelis kurang kuat akar filosofinya.
Beliau memaparkan bukan tidak mungkin komunikasi bencana maupun komunikasi pariwisata bisa menjadi subuah prodi tersendiri bukan hanya mata kuliah atau konsentrasi. “Sebaikanya kita semua mulai melakukan refleksi terkait konsep-konsep itu, apa ontologinya, epistimologinya, dan aksiologinya. Jangan hanya ngawur membuat istilah komunikasi bencana tapi akarnya tidak jelas, padalah bukan tidak mungki suatu saat muncul prodi komunikasi bencana” papar Prof Burhan Bungin., Ph.D.
Sharing Session Pendidikan Tinggi Komunikasi Di Era 4.0
Acara dilanjutkan dengan sharing session dengan fasilitator diskusi Dr. M. Sulhan Ketua Departement Ilmu Komunikasi UGM. Beliau membuka diskusi dengan sebuah statmen unik yakni “Kanibalisme Antar Prodi Rumpun Ilmu Komunikasi”. Hal ini merupakan respon dimana revolusi industri 4.0 dan munculnya banyak prodi komunikasi baru akan menambah masalah baru pada serapan lulusan.
Hal tersebut pernah terjadi pada saat indonesia masuk Pasar Bebas, Prodi mageman dan ekonomi menjamur. Sehingga pada ujungnya, serapan terhadap lulusan menurun dan buktinya banyak prodi yang tutup atau di moratorium kementrian. Maka para pakar ilmu komunikasi berharap hal itu tidak terjadi pada prodi komunikasi ketika memasuki era 4.0.
Turut berbicara dalam sharing session kali ini beberapa prodi baru seperti Universitas Amikom, dan Universitas Muhammadiyah Magelang, yang diminta menjalaskan prodi masing-masing. Prodi baru ini turut mendapat apresiasi dari beberapa dewan pakar maupun pakar yang ditunjuk sebagai Asesor BAN-PT. Hal tersebut karena baik UM Magalang maupun Amikom memiilik karakter atau keunikan dibanding prodi-prodi lainnya. UM magelang dengan komunikasi bisnis digital dan rural studinya, serta amaikom dengan Cyber Comunicationnya.
Keunikan menjadi karakter penting, karena itu pertanyaan utama yang muncul oleh asesor ketika visitasi lapangan. Sebuah kasus Departement ilmu komunikasi di Indonesia Timur memiliki prodi Advertising yang jelas daya serapannya tidak sesuai dengan kultur dan demografis masyarakatnya. Berbeda lagi dengan Universitas Nusa Cendana yang sangat local wisdom, mereka memiliki prodi Komunikasi Lintas Budaya, keran secara geografis dekat dengan perbatasan. Disisi lain Universitas Nusa Cendana tetap memakai istilah Humas dibanding dengan PR karena pasar mereka membutuhka Skills-Skills kedaerahan.
Para dewan pakar berharap dan yakin keunikan akan tetap menjadi penyelamat Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi dari “kanibalisme Antar Prodi”. Karena komunikasi sebagai disiplin ilmu baru, harus menemukan tempatnya di era saat ini. Ditambah Informasi adalah isu yang sexy sehingga saingan Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi tidak hanya pada internal lingkungan, tapi prodi lain yang berusaha mulai memasuki area kerja kita sebagai sebuah disiplin ilmu.
*Dosen Komunikasi Pembangunan di Prodi Ilmu Komunikasi UM Magelang
Oleh: Sihabuddin
Tulisan ini sudah dimuat di Harian Analisa Medan Edisi 8 Juni 2018
Setiap manusia memiliki keterbatasan sehingga diperlukan teknologi untuk mempermudah masyarakat dalam segala aktivitasnya. Berkat teknologi peradaban manusia menjadi maju dan semakin berkembang hingga saat ini karena masalah-masalah dalam pengelolaan sumber daya alam cepat teratasi. Dengan semakin majunya peradaban manusia tentunya diikuti oleh kemajuan teknologi pula yang melahirkan berbagai teknologi baru di berbagai bidang mulai transportasi, teknologi, informasi, komunikasi, dan lainnya, sehingga kemajuan demi kemajuan dari segala aspek terus terjadi, inilah dampak positif dari keberadaan teknologi.
Namun, keberadaan teknologi juga memiliki dampak negatif yang sangat membahayakan manusia. Dampak tersebut bukan dikarenakan oleh teknologi itu sendiri, tapi dikarenakan oleh pemakainya. Manusia yang sangat diuntungkan dengan keberadaan teknologi sampai kebablasan sehingga sangat tergantung pada teknologi dan membutnya malas untuk menggunakan organ tubuhnya untuk beraktifitas. Padahal teknologi diciptakan untuk mengatasi keterbatasan manusia yang tidak bisa digunakan oleh organ tubuh secara langsung, bukan untuk mengganti fungsi alat tubuh untuk beraktifitas. Namun saat ini teknologi banyak yang digunakan untuk menggantikan manusia bukan untuk membantu manusia, sehingga sangat membahayakan manusia itu sendiri. Sebab, semua organ tubuh manusia harus digerakan atau digunakan sesuai dengan kadarnya jika tidak digunakan akan membahayakan pemilik organ tubuh tersebut karena akan menyebabkan lemah atau sakit bahkan berujung pada kematian.
Ketergantungan pada teknologi saat ini sudah sangat membudaya di masyarakat Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya masyarakat tidak hanya di perkotaan tapi juga di pedesaan yang tidak mau berjalan kaki ke tempat yang bisa dijangkau jalan kaki. Jika ada orang yang jalan kaki ke tempat yang dekat saja, biasanya akan ditanya kendaraannya dimana. Hal ini dikarenakan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari hampir semua masyarakat jadi wajar jika ada yang berpergian meski jarak dekat akan ditanya kendarannya. Hal ini menyebabkan saat ini banyak orang yang tidak kuat jalan kaki meski jaraknya dekat. Padahal fungsi kaki untuk berjalan dan dari setiap langkahnya memberikan banyak manfaat yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga dengan jalan kaki tubuh tetap tidak mudah sakit. Diambil dari www.alodokter.com, jalan kaki memberikan banyak manfaat baik untuk kesehatan jantung, menurunkan kolesterol, mencegah diabetes, menurunkan berat badan, mencegah osteoporosis dan sebagainya.
Dengan melihat fenomena ini, wajar saat ini banyak orang yang menderita penyakit-penyakit tersebut. Hal ini karena anggota tubuhnya tidak bergerak sehingga ada ketidakseimbangan di dalam tubuh yang menyebabkan timbulnya penyakit. Coba bandingkan dengan zaman dahulu, dimana teknologi tidak secanggih seperti saat ini. Orang-orang terdahulu di usia 50 tahun bahkan 60 masih banyak yang sehat bugar, penglihatannya tidak minus, pendengarannya masih normal, dan jalan kakinya masih kuat. Hal ini orang-orang terdahulu tidak tergantung dengan teknologi, organ tubuhnya digunakan sebagai mana mestinya, penggunaan teknologi sesuai dengan keperluan, sehingga tubuhnya tidak lemah meski sudah tua. Sedangkan saat ini, di usia 50 bahkan 40 saja sudah banyak yang harus cek kedokter karena penyakit yang diderita.
Selain melemahkan tubuh, teknologi juga melemahkan manusia dari aspek pergaulan. Memang dengan majunya teknologi informasi dan komunikasi manusia semakin mudah menjalin pertemanan dengan siapapun karena bisa berkomunikasi dengan jarak jauh. Namun, banyak orang yang kebablasan dalam menggunakan teknologi ini, sehingga malas bersilaturrahmi di waktu-waktu senggang bahkan ada yang malas bertutur sapa secara langsung dengan orang yang di sekitarnya karena lebih suka berkomunikasi dengan orang yang jauh. Sehingga banyak manusia lemah atau tidak pandai dalam bergaul dengan masyarakat di sekitarnya, padahal jika ada sesuatu yang tidak diinginkan orang-orang terdekatnyalah yang pertama kali akan menolong, bukan orang jauh yang diajak berkomunikasi dengan teknologi tersebut.
Teknologi juga melemahkan manusia dalam keterampilan, seperti dalam keterampilan menulis atau kaligrafi. Saat ini banyak mahasiswa meski sudah berpendidikan tinggi memiliki tulisan tangan yang jelek karena lebih sering menulis menggunakan laptop, dan sebagainya. Selain itu, saat ini semakin sedikit orang yang benar-benar mempelajari kaligrafi karena sudah ada alat yang bisa membuat tulisan yang bagus. Sehingga orang-orang yang bisa menulis dengan tulisan tangan yang indah semakin sedikit. Padahal menulis dengan tangan juga memiliki banyak manfaat salah satunya bisa meningkatkan ingatan. Masih banyak dampak negatif dari teknologi yang melemahkan manusia di berbagai aspek. Namun, teknologi melemahkan manusia jika kebablasan atau berlebihan dalam penggunaanya, karena hal yang berlebihan itu tidak baik. Jika teknologi digunakan sebagai mana mestinya tentunya akan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Penulis: Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang
Oleh: Sihabuddin
Tulisan ini sudah dimuat di Magelang Ekspress Edisi 4 September 2018
Indonesia sebagai negara kepulauan terluas di dunia dengan luas laut mencapai 70 persen dari luas seluruh wilayah tentunya memiliki kekayaan laut yang luar biasa. Kekayaan laut Indonesia terdiri dari terumbu karang yang mana 14 persen dari terumbu karang dunia ada di Indonesia dan diperkirakan lebih dari 2.500 jenis ikan dan 500 jenis karang hidup di dalamnya. Kekayaan laut Indonesia tentunya sangat menguntungkan jika dikelola dengan baik salah satunya dengan mengkonsumsi ikan laut yang sangat melimpah, bahkan menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan potensi sumber daya ikan mencapai 9,9 juta ton. Namun sayang, kekayaan laut yang melimpah tidak benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Banyak masyarakat yang enggan makan ikan laut terutama daerah pegunungan, menurut data FAO sebagai badan pangan dunia menyebutkan Indonesia berada di peringkat ke lima di ASEAN setelah Malaysia, Myanmar, Vietnam, dan Filipina sebagai negara dengan konsumsi ikan.
Melihat data ini tentunya sangat miris melihat Indonesia sebagai negara terluas di Asia Tenggara dilihat dari segi daratan maupun lautan. Dengan sedikitnya masyarakat Indonesia yang suka makan ikan maka industri perikanan di Indonesia tidak berkembang dan potensi laut yang melimpah akan sia-sia. Jadi tidak heran jika ikan laut di Indonesia banyak yang dicuri oleh negara lain karena tidak dikelola secara maksimal. Maka dari itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Pudjiastuti mengampanyakan agar masyarakat Indonesia rajin memakan ikan agar kekayaan ikan laut di Indonesia benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, harga ikan laut relatif lebih dari pada daging sapi dan gizi ikan laut sangat bagus untuk kecerdasan seorang anak.
Salah satu daerah yang paling rendah mengkonsumsi ikannya adalah pulau Jawa terutama Jawa Tengah, menurut Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah angka mengkonsumsi ikan di Provinsi Jawa Tengah berada di angka 26 kilogram masih jauh di bawah target nasional yaitu 36 kilogram. Padahal Jawa Tengah diapit oleh lautan, laut Jawa di sebelah Utara dan Samudera Hindia sebelah Selatan. Harusnya dengan potensi laut yang luas masyarakat Provinsi Jawa Tengah rajin mengkonsumsi ikan. Selain Jawa Tengah, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah yang konsumsi makan ikannya rendah. Menurut kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta tingkat konsumsi ikan warga kota Yogyakarta baru mencapai 23 kilogram perkapita pertahun. Masih jauh dibanding rata-rata nasional.
Ada banyak hal yang menyebabkan masyarakat Indonesia tidak begitu suka makan ikan laut. Salah satunya adalah mitos, banyak mitos yang beredar di masyarakat terutama untuk ibu hamil kalau memakan ikan laut bayinya berbau amis, ada pula yang mengatakan ibu hamil yang memakan ikan laut bayinya akan cacingan. Padahal mengkonsumsi ikan sangat banyak manfaatnya bagi kesehatan terutama untuk perkembangan anak karena ikan mengandung asam lemak omega 3 yang dibutuhkan untuk pertumbuhan otak. Selain itu, ikan juga mengandung kalsium, vitamin D, dan fosfor yang sangat baik untuk pertumbuhan tulang. Mengkonsumsi ikan juga sangat baik untuk kesehatan jantung dan manfaat lainnya. Jadi mitos yang beredar di masyarakat saat ini tentang mengkonsumsi ikan itu tidak benar.
Selain mitos, penyebab masyarakat rendah mengkonsumsi ikan adalah pandangan masyarakat terhadap konsumsi ikan. Sebagian besar masyarakat berpandangan orang yang mengkonsumsi ikan laut dari kalangan kelas menengah ke bawah karena harganya lebih murah dari pada harga daging, apalagi daging sapi. Dan kebiasaan orang Indonesia akan menganggap luar biasa sesuatu yang harganya mahal, meskipun yang mahal belum tentu lebih berkualitas. Hal ini berbeda dengan di Jepang mengkonsumsi ikan menjadi hal yang biasa bukan menunjukan kelas ekonomi, bahkan acara-acara memasak di stasiun televisi Jepang menu utamanya sering dari ikan laut. Untuk wilayah Jawa Tengah bagian Tengah dilihat dari sisi Utara dan Selatan, salah satu penyebab rendahnya masyarakat mengkonsumsi ikan laut salah satunya karena mahalnya harga ikan laut dan sedikitnya penjual ikan laut. Sehingga wajar jika masyarakat wilayah ini lebih memilih tahu, tempe, telur, daging, dan sayur sebagai pendamping nasi untuk dikonsumsi.
Untuk menyadarkan dan menjadikan masyarakat gemar mengkonsumsi ikan tidak cukup dengan penyuluhan atau sosialisasi dan iklan anjuran makan. Tapi juga pembiasaan masyarakat untuk makan ikan sejak kecil, sebab kebiasaan sejak dari kecil akan sangat berpengaruh saat dewasa. Contohnya sebagian besar orang Indonesia sejak dari kecil makan nasi maka tidak akan merasa kenyang makan apapun kecuali makan nasi. Tentunya hal ini sama dengan pembiasaan mengkonsumsi ikan. Maka dari itu, pemerintah perlu berperan aktif dalam menyediakan sarana dan prasana agar ikan mudah didapat meskipun di daerah pegunungan tentunya dengan harga yang murah. Selain itu, perlunya tips-tips gratis untuk mengelola ikan dengan rasa dan sajian yang unik. Faktor tokoh juga mempengaruhi perilaku masyarakat, alangkah baiknya pemerintah menjadikan beberapa tokoh terkenal sebagai juru kampanya untuk mengkonsumsi ikan dan tokoh tersebut memberikan contoh langsung cara mengkonsumsi ikan sehingga mengubah pola pikir masyarakat bahwasannya mengkonsumsi ikan itu kelas elit.
Penulis: Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang
Oleh: Sihabuddin
Tulisan ini sudah dimuat di Koran Jakarta Edisi 30 Juli 2018
Sebagai negara kepulauan terluas di dunia dan beriklim tropis Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang begitu melimpah. Keanekaragaman hayati Indonesia menempati urutan kedua di dunia setelah Brazil. Sebanyak 5.131.100 keanekaragaman hayati di dunia, 15,3% nya terdapat di Indonesia (sumber: http://news.unpad.ac.id). Salah satu keanekaragaman hayati di Indonesia yang begitu melimpah adalah tumbuh-tumbuhan. Adapun tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di Indonesia banyak sekali macamnya, tergantung melihat dari sisi yang mana. Secara garis besar tumbuh-tumbuhan dibagi dua, ada yang berbuah ada yang tidak, yang berbuah pun ada yang bisa dimakan ada yang tidak.
Buah-buahan yang merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga kesehatan tubuh sangat dekat sekali dengan kehidupan manusia. Sehingga pohon buah-buahan sengaja di tanam dipekarangan rumah bahkan di tanam di kebun karena sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas dan menjadi lahan bisnis. Buah-buahan ada yang sangat populer ada yang tidak. Buah-buahan yang populer buah-buahan yang mudah hidup di berbagai belahan dunia dan dibawa oleh manusia dari suatu wilayah ke wilayah lain. Seperti buah pisang yang merupakan salah satu buah paling populer di seluruh dunia. Buah pisang yang diperkirakan berawal dari Asia Tenggara saat ini sudah mendunia karena buah ini mudah tumbuh di berbagai tempat dan memiliki banyak manfaat. Selain pisang, ada buah kelapa yang diperkirakan dari pesisir Samudra Hindia di sisi Asia, buah mangga yang diperkirakan dari perbatasan India dan Myanmar, buah jeruk yang diperkirakan dari Asia Timur dan Asia Tenggara, Apel yang diperkirakan dari Asia Tengah, Nanas yang berasal dari Brazil, Pepaya yang berasal dari Meksiko, dan buah-buahan lain yang mudah dijumpai di berbagai belahan dunia.
Salah satu ciri khas dari buah-buahan populer ialah memiliki nama tersendiri atau sebutan tersendiri dalam setiap bahasa. Hal ini dikarenakan buah-buahan populer tersebut sudah sangat dekat dengan masyarakat di suatu wilayah tertentu sehingga masyarakat berhak memberi nama sesuai kesepakatan masyarakat di daerah tersebut. Seperti buah pisang dalam bahasa Indonesia yang dalam bahasa Inggris disebut banana, dalam bahasa Arab disebut mauzun, dalam bahasa Mandarin disebut Xiāngjiāo, dalam bahasa hindi disebut kele, dalam bahasa Shawili disebut ndizi, dan nama-nama lain di berbagai bahasa yang berbeda. Begitu pula dengan buah-buahan populer lainnya yang memiliki banyak sebutan di berbagai bahasa.
Buah Lokal Indonesia
Indonesia memiliki banyak sekali buah-buahan lokal yang kurang populer karena kalah bersaing dengan buah-buahan yang sudah medunia. Padahal buah-buahan lokal tersebut tidak kalah rasanya dan khasiatnya dengan buah-buahan yang sudah populer di masyarakat. Bahkan, buah-buahan lokal tersebut rasanya unik karena jarang dikonsumsi. Seperti buah trenggulun, buah-buahan dari pohon yang berduri ini rasanya manis asam bahkan terasa aneh, namun buah yang tumbuh di dataran rendah ini memiliki khasiat untuk meredakan sariawan. Selain trenggulung yang banyak ditemukan di Jawa, ada buah matoa yang merupakan buah asli dari tanah papua. Buah yang rasanya sangat manis ini memiliki aroma yang unik karena aromanya campuran rambutan, klengkeng, dan durian. Memang saat ini matoa sudah mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia, tapi kepopulerannya masih kalah dengan buah-buahan impor yang sudah mendunia.
Selain trenggulun dan matoa, ada buah jamblang yang sulit ditemukan di perkotaan namun tumbuh liar di pedesaan. Jamblang yang memiliki banyak nama di Indonesia sesuai dengan bahasa daerahnya terasa asing bagi orang-orang kota karena buah-buahan ini jarang terdapat di super market, mall, dan pusat perbelanjaan lainnya. Padahal buah ini kandungan vitamin A dan C nya tidak kalah dengan buah yang mudah ditemukan di pasaran. Memang buah jamblang juga ditemukan di negara-negara lain tapi buah ini sangat dekat dengan masyarakat pedesaan sehingga perlu dikembangkan seperti buah-buah lainnya. Selain Jamblang ada buah buni yang namanya agak asing bagi masyarakat Indonesia padahal buah ini memiliki rasa yang unik antara asam dan sepat sehingga enak kalau dibuat rujak serta kaya akan manfaat, buah buni sudah jarang ditemukan di pekarangan karena tidak dibudayakan dan dinilai kurang komersil untuk dibudidayakan. Selain buah-buahan tersebut masih banyak buah-buahan lokal yang kurang populer.
Penyebab kalahnya buah-buahan lokal kalah bersaing dengan buah-buahan yang sudah mendunia karena kurangnya minat orang Indonesia sendiri untuk membeli buah-buahan lokal. Orang Indonesia lebih suka membeli buah-buahan impor karena dinilai lebih mewah seperti anggur, buah pir, strawberry, buah naga, kiwi, cherry, dan buah lainnya. Sehingga para petani atau pekebun yang hidupnya dari menjual hasil pertanian atau perkebunan enggan menanam buah-buahan lokal yang sebenarnya tidak kalah dengan buah-buahan impor karena tidak ada yang membeli dan tidak ada pengepul juga. Selain itu, banyak masyarakat yang belum tahu nama-nama buah-buahan lokal karena jarang ditemui di pasaran. Padahal bisa jadi masyarakat yang belum tahu sangat menyukainya.
Maka dari itu buah-buahan lokal perlu untuk dipopulerkan tidak hanya bentuk buahnya tapi juga khasiatnya agar semakin dikenal oleh masyarakat dan semakin diminati sehingga para petani semangat untuk membudidayakan sebab sudah menemukan pasar untuk dijual. Agar semakin populer, harus mengubah cara pandang masyarakat kalau buah-buahan lokal lebih berkelas dari pada buah-buahan impor. Dengan mengubah cara pandang masyarakat bahwasannya buah-buahan lokal lebih berkelas maka buah-buahan lokal akan dihidangkan di acara-acara penting seperti pernikahan, syukuran, dan acara lainnya. Tentunya juga perlu diiklankan oleh pemerintah di berbagai media ajakan untuk mengkonsumsi buah-buahan lokal sehingga buah-buahan lokal semakin dikenal dan diminati.
Penulis: Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang
Oleh: Sihabuddin
Tulisan ini sudah dimuat di Magelang Ekspress Edisi 9 Juli 2018
Beberapa tahun silam televisi sebagai media massa menjadi primadona bagi semua kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan televisi waktu itu memiliki banyak kelebihan atau banyak variasi terutama dari segi hiburan dari pada media massa lainnya seperti koran dan radio (meskipun koran dan radio memiliki kelebihan yang tidak dimiliki televisi). Sehingga waktu itu banyak orang berlama-lama di depan televisi untuk mendapatkan informasi atau hiburan yang diinginkan. Apalagi semakin lama semakin banyak saluran dengan berbagai karakter masing-masing sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melihat hal ini, para pengelola televisi berlomba-lomba untuk mendapatkan hati masyarakat dengan membuat program-program menarik tujuannya untuk meningkatkan rating program yang dibuat. Jika program yang dibuat ratingnya tinggi maka akan banyak iklan dari perusahaan besar berdatangan karena iklan tersebut otomatis ditonton orang banyak. Tentunya kedua belah antara pihak antara pengelola televisi dan pengiklan akan mendapatkan banyak keuntungan jika program yang dibuat ratingnya tinggi.
Untuk mendapatkan rating yang tinggi tentunya membutuhkan banyak aspek salah satunya pemeran atau artis yang berkualitas. Artis sangat menentukan tingginya rating sebuah program televisi, maka tidak heran artis yang sudah terkenal dengan prestasinya dibayar mahal untuk membintangi sebuah program maupun iklan. Karena artis yang sangat populer menjadi magnet masyarakat untuk menonton program yang disajikan di televisi. Bahkan artis papan atas tidak segan-segan menolak tawaran untuk membintangi sebuah acara di televisi jika harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Dengan sangat dibutuhkannya artis dalam sebuah program televisi dan tentunya dengan bayaran yang mahal membuat orang sangat berminat untuk jadi artis selain juga bisa terkenal. Maka tidak heran banyak orang benar-benar berjuang untuk menjadi artis papan atas baik dari segi harta maupun tenaga. Sebab artis papan atas terbukti mampu menaikan rating program acara televisi.
Antara pengelola program televisi, pengiklan, dan artis saling membutuhkan dan kebutuhan tersebut akan terpenuhi jika program televisi yang disajikan mendapatkan rating tinggi. Namun, sejak beberapa tahun yang lalu setelah dunia internet semakin maju dan ditemukannya berbagai media baru termasuk youtube rating pun bukan satu-satunya jalan untuk menampilkan hiburan atau informasi audio visual. Begitu pula dengan dunia artis, dengan adanya youtube orang tidak perlu banyak biaya bahkan merantau ke Jakarta untuk menjadi artis papan atas agar menjadi magnet menaikan rating sebuah program televisi. Saat ini jika orang yang bercita-cita jadi artis sudah tidak mampu untuk menjadi peninggi rating televisi bisa mencoba untuk menjadi peningkat peringkat trending di youtube.
Youtube yang merupakan sebuah situs berbagi video sangat akrab sekali dengan pengguna internet terutama bagi kalangan anak muda. Bahkan, dengan adanya youtube setiap orang bisa menjadi pembuat video dengan menjadi artis sendiri dan setiap orang bisa melihat video selama terkoneksi dengan internet dan memberikan komentar langsung terhadap video tersebut, dan video yang paling banyak dikunjungi atau ditonton inilah yang disebut dengan trending. Seseorang atau kelompok orang bisa menjadi artis terkenal tanpa diliput televisi asalkan video yang dibuat dan dibintangi dirinya sendiri sering bahkan selalu trending di youtube. Apalagi untuk kalangan muda untuk saat ini lebih sering menonton tayangan di internet terutama di youtube daripada menonton televisi. Hal ini karena youtube sangat fleksibel dari segi waktu dan tempat selama terkoneksi dengan jaringan internet. Jadi orang yang terkenal lewat youtube bisa jauh lebih terkenal dengan orang yang terkadang tampil di televisi.
Kaitan Rating dan Trending
Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semuanya bisa dihubungkan dan disatukan, tayangan televisi bisa diupload di youtube begitu pula video di youtube bisa disiarkan di televisi. Bahkan stasiun televisi saat ini juga memiliki akun youtube. Sehingga artis yang sering muncul di televisi bisa dengan mudah muncul di youtube baik dari pribadi atau dari pihak televisi . Namun, orang yang sering muncul di youtube belum tentu muncul di televisi kecuali videonya trending di youtube dan diundang ke acara televisi. Orang yang videonya trending apalagi sering trending di youtube sudah menjadi artis di mata masyarakat tanpa harus muncul di televisi karena mampu mencuri perhatian orang dengan video-videonya yang menghibur. Pihak stasiun televisi tentunya tidak mau membuang kesempatan ini dengan mengundang artis youtube tersebut karena akan menjadi magnet acaranya agar ratingnya tinggi. Jadi untuk menaikan rating program televisi bisa mengundang artis-artis youtube yang videonya sering trending. Begitu pula sebaliknya, acara-acara televisi yang ratingnya lumayan tinggi dan segmentasinya anak muda akan menjadi trending di youtube seperti acara Indonesian Idol yang sering trending di youtube. Jadi saat ini pengelola program televisi dan artis-artisnya tidak hanya mengejar rating tapi juga trending. Bahkan trending di youtube dan sosial media terkadang jauh lebih meningkatkan pamor seorang artis di kalangan anak muda dari pada di acara televisi.
Banyak sekali artis-artis yang bermula dari trending youtube akhirnya menjadi artis yang ratingnya tinggi di televisi dan video-videonya di youtube tetap banyak pengunjungnya. Seperti Via Vallen, Nissa Sabyan, Nella Kharisma, Justine Bieber, PSY dengan Gangnam Stylenya dan lainnya. Ada pula yang memang berangkat dari ikut casting untuk program acara ditelevisi atau terkenalnya berawal dari televisi dan mampu menaikan rating acara tersebut, di youtube pun karya-karyanya sering trending, seperti group band Armada, Anji, Virgoun, Siti Badriyah, Agnez Mo, dan lainnya. Sehingga ukuran populernya karya seorang artis tidak hanya dilihat dari rating televisi atau trending dari youtube saja tapi bisa dilihat dari keduanya, yaitu rating dan trending.
Penulis: Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang
Oleh: Sihabuddin
Tulisan ini sudah dimuat di Harian Bhirawa Edisi 31 Juli 2018
Seorang anak kecil bagaikan kertas putih atau tembok putih yang bisa ditulisi atau diwarnai dengan pensil berbagai warna. Jika kertas atau tembok tersebut ditulis atau digambar dengan warna merah, maka akan berubah merah. Jika warnanya hitam, maka akan berubah menjadi hitam. Begitu pula dengan seorang anak yang masih sangat polos, karakternya bisa dibentuk oleh lingkungan sekitarnya. Lingkungan inilah salah satu yang sangat mempengaruhi seorang anak seperti karakter, psikologis, impian, dan sebagainya. Seperti contoh, anak yang biasa hidup dilingkungan musisi, besar kemungkinan anak tersebut akan menjadi musisi atau penyanyi seperti penyanyi Gita Gutawa anak Edwin Gutawa seorang musisi kawakan Indonesia. Anak yang hidup dilingkungan atlit kemungkinan besar akan menjadi atlit, seperti Tommy Sugiarto atlit bulutangkis yang merupakan anak Icuk Sugiarto mantan juara dunia bulutangkis. Anak yang hidup dilingkungan bajingan terutama dari keluarga bajingan bukan tidak mungkin besarnya menjadi bajingan.
Hal ini sesuai dengan pepatah yang mengatakan “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Tapi, pertumbuhan sebuah pohon juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Sebuah pohon akan berbatang tinggi besar dan berbuah lebat jika tumbuh di tanah yang subur. Begitu pula dengan pohon yang hidup di tanah yang kurang subur maka akan pohon tersebut tumbuh kurang sempura. Maka dari itu, melihat dari contoh di atas seorang anak sangat membutuhkan perhatian khusus bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan tersebut tidak hanya pertumbuhan fisiknya saja, tapi juga pertumbuhan psikisnya. Apalagi anak tersebut masih balita yang disebut dengan masa golden age atau usia emas yang pada masa tersebut apa yang dialami langsung ditangkap sehingga sangat membentuk karakternya. Sehingga pada masa tersebut seorang anak sangat membutuhkan perhatian khusus.
Perhatian khusus bagi seorang anak ialah dengan menempatkan anak pada tempatnya, artinya kebutuhan seorang anak tidak boleh disamakan dengan kebutuhan orang dewasa yang porsinya jelas berbeda. Setiap porsi tersebut pastinya sudah yang terbaik sesuai dengan ukurannya masing-masing. Sebab, jika tidak sesuai porsi maka akan mengalami kerusakan. Seperti sebuah balon yang diisi air dengan ukuran yang melebihi kapasitas maka balon tersebut akan meledak. Begitu pula dengan seorang anak jika memberikan sesuatu tidak disesuaikan dengan usianya maka akan mengalami kelainan pada seorang anak. Anak tersebut bisa saja dewasa sebelum waktunya atau tidak sama dengan anak-anak lain yang seusia dengan dia.
Musik Khusus Anak
Televisi adalah salah satu tontonan yang sudah memasuki berbagai kalangan mulai dari yang kaya sampai yang miskin, mulai dari orang kota sampai orang desa, mulai dari orang tua sampai anak-anak, semuanya bisa menikmati tayangan televisi. Melihat dari realita yang ada dalam program televisi saat ini sungguh sangat menyedihkan dimana kebutuhan hiburan musik untuk anak-anak sangatlah minim, yang ada hanyalah musik untuk orang dewasa bahkan banyak lagu-lagu yang populer saat ini yang seharusnya didengar oleh usia 18 tahun ke atas. Seperti Cinta satu malam, satu jam saja, hamil duluan dan sebagainya. Malah juga dikonsumsi oleh anak kecil. Hal ini sungguh sangat ironis.
Sebenarnya lagu yang dinyanyikan tidak masalah, tapi lyrik lagu dewasa yang jadi masalah. Karena saat itulah masa serba ingin tahu anak-anak dan saat itu pula anak kecil masih polos seperti kertas putih. Jika anak kecil sudah menghafal lyrik “Cinta Satu Malam,” “Belah Duren,” dan lagu dewasa lainnya bukan tidak mungkin anak kecil dewasa belum saatnya, apalagi lagunya seronok yang pesannya sangat tidak pantas, jelas bisa membahayakan pola pikir anak-anak.
Padahal lagu anak-anak sampai saat ini sangatlah banyak. Tapi, kalah jauh lebih populer dari lagu-lagu dewasa. Penyebabnya kurangnya media yang membingkai lagu anak secara khusus, apalagi televisi yang dipandang sangat efektif menyebarkan pengaruh secara cepat. Bisa dilihat Televisi saat ini sangat jarang bahkan bisa dikatakan tidak ada yang membuat program khusus musik anak. Hal ini sangat jauh berbeda dengan tahun sembilan puluhan yang begitu banyak acara musik anak-anak seperti Tralala-Trilili, Ciluk Ba, dan sebagainya. Sehingga anak-anak mudah mendapatkan lagu yang pas dengan dirinya.
Acara pencarian bakat menyanyi untuk anak-anak bukannya tidak ada bahkan banyak, tapi lagu yang dinyanyikan banyak yang lagu dewasa, sehingga masih ada yang kurang. Padahal penyanyi anak-anak saat ini banyak tapi nama-nama mereka tenggelam karena tidak ada wadah untuk menampung bakat mereka. Seperti penyanyi cilik Umay Shahab yang lebih dikenal sebagai bintang sinetron, presenter dan bintang iklan, karena lagu-lagunya yang kurang populer.
Dengan melihat realitas ini, seharusnya pihak pertelevisian dan media lainnya seperti radio tidak tinggal diam. Mereka harus melihat tahun sembilan puluhan yang begitu sukses dengan acara musik anak. Acara musik anak-anak harus dihidupkan kembali, agar anak-anak dekat dengan dunianya. Karena bagaimanapun mereka adalah penerus bangsa yang harus dididik sebaik mungkin demi kemajuan bangsa. Kalau pertelevisian bisa membuat sinetron anak, kenapa menghidupkan kembali acara musik anak tidak bisa? Jangan sampai penerus bangsa kita dewasa sebelum waktunya. Biarkanlah anak-anak tumbuh sesuai dengan usianya dan menikmati dunianya.
Penulis, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang