Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammdiyah Magelang (UNIMMA) memperkuat Desa Wisata Wanurejo, desa penyangga Borobudur yang masuk 50 desa wisata terbaik Indonesia (ADWI 2024), melalui riset berbasis literasi. Wanurejo, yang dikenal sebagai “Desa Wisata Budaya dan Kriya”, menawarkan pengalaman wisata yang unik, mulai dari homestay hingga atraksi budaya lokal yang kini menjadi daya tarik utama destinasi super-prioritas.
Keterlibatan UNIMMA ini dipimpin oleh tim penelitian Hibah Riset Desa yang diketuai oleh Zulfikar Bagus Pambuko, dengan dukungan aktif dari dosen Ilmu Komunikasi Lintang Muliawanti dan lintas disiplin lainnya. Tim ini menerapkan pendekatan Research-Based Learning.
Melalui model ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas. Mereka langsung terjun ke lapangan, terlibat dalam penyusunan proposal, analisis data SPSS, hingga pengumpulan data di sembilan dusun Wanurejo.
Wanurejo: Laboratorium Sosial Ilmu Komunikasi UNIMMA
Sejak tahun 2019, Prodi Ilmu Komunikasi UNIMMA telah menjadikan Desa Wanurejo sebagai Laboratorium Sosial yang mendukung berbagai proses pembelajaran. Hubungan ini diintegrasikan melalui konversi mata kuliah berbasis proyek di desa, menunjukkan bagaimana teori komunikasi bersentuhan langsung dengan praktik pemberdayaan masyarakat.
Pada mata kuliah PR 4.0, mahasiswa menghasilkan PR Kit untuk desa wisata. PR Kit ini berisi strategi komunikasi publik, panduan branding, dan konten media sosial yang relevan.
Selain itu, pada mata kuliah MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition), mahasiswa terlibat langsung dalam penyelenggaraan event besar seperti Borobudur Night Carnaval. Kegiatan ini dikonversi sebagai pengalaman pembelajaran resmi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Tak hanya itu, mahasiswa juga aktif membuat video company profile Desa Wisata Wanurejo. Video ini diunggah di kanal YouTube Prodi Ilkom sebagai bagian dari strategi publikasi digital desa.
Rangkaian aktivitas ini menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi, khususnya Ilmu Komunikasi UNIMMA, mampu menjembatani teori public relations dan digital communication dengan praktik nyata di lapangan. Tujuannya adalah memperkuat kapasitas promosi dan manajemen desa wisata.
Literasi Sebagai Modal Sosial Baru
Temuan riset Dosen UNIMMA ini juga mengungkap tantangan literasi sebagai modal sosial baru. Literasi para pegiat wisata Wanurejo masih berada pada kategori sedang (moderate).
Misalnya, skor literasi media sosial pegiat wisata mencapai 71,58. Kekuatan ada pada keterampilan teknis penggunaan platform, namun masih lemah di aspek privasi dan algoritma, yang merupakan isu krusial dalam Ilmu Komunikasi Digital.
Demikian pula dengan literasi Bahasa Inggris, yang memiliki skor 64,44. Keterampilan membaca lebih kuat daripada menulis, menunjukkan kebutuhan mendesak untuk komunikasi pariwisata global.
Hal ini mempertegas peran akademisi sebagai katalisator. Perguruan tinggi harus memastikan desa wisata mampu bersaing secara global melalui penguatan literasi digital, bahasa, dan keuangan.
Membangun Wanurejo sebagai Model Berkelanjutan
Hasil kajian menekankan bahwa pengembangan Wanurejo dengan model Community Based Tourism (CBT) telah berjalan cukup baik, ditandai peningkatan ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Namun, tantangan seperti ego sektoral dan kesadaran generasi muda tetap ada.
Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi Pentahelix (akademisi, bisnis, pemerintah, masyarakat, dan media) yang kuat untuk membangun model integrasi desa wisata berkelanjutan. Partisipasi publik adalah kunci, di mana masyarakat menjadi subjek, bukan sekadar objek, dalam proses pengembangan.
Dosen UNIMMA yang terlibat langsung dalam riset ini percaya bahwa Wanurejo dapat menjadi world class tourism village. Kunci keberhasilan Wanurejo adalah kolaborasi Pentahelix yang kuat. Riset dan pembelajaran Ilmu Komunikasi UNIMMA memastikan desa ini menjadi model nasional desa wisata berkelanjutan.