Fenomena konten berbasis pengguna atau User Generated Content (UGC) yang kian masif mendapatkan perhatian serius dari dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhamamdiyah Magelang (UNIMMA), Lintang Muliawanti, S.I.Kom., M.A.

Melalui artikel terbarunya, beliau membedah bagaimana gelombang informasi dari masyarakat harus tetap berpijak pada nilai-nilai jurnalisme meskipun tantangan teknologi deepfake semakin nyata. Tulisan edukatif yang dipublikasikan di kanal Kompasiana ini menjadi referensi penting bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIMMA untuk memahami kompleksitas produksi berita di era kecerdasan buatan.

Beliau menekankan bahwa kemudahan masyarakat dalam mengunggah informasi merupakan sebuah kemajuan demokrasi informasi, namun menyimpan risiko manipulasi yang tinggi.

Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIMMA, memahami batasan antara kreativitas konten dan integritas jurnalisme adalah kompetensi mutlak di masa depan. Deepfake bukan sekadar tren teknologi, melainkan ancaman bagi kebenaran informasi jika tidak dibarengi dengan kemampuan verifikasi yang mumpuni oleh para calon komunikator muda.

“Menjaga etika jurnalisme di tengah gempuran deepfake adalah soal integritas nurani seorang komunikator. Kita tidak boleh terjebak hanya pada kecepatan unggah, melainkan pada akurasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” ungkap Lintang Muliawanti dalam artikelnya.

Perspektif ini memberikan pandangan baru bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIMMA bahwa teknologi seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti nilai etika. Beliau mendorong adanya kolaborasi antara teknologi digital dan ketajaman intuisi manusia dalam menyaring berita agar publik tidak terjebak dalam disinformasi yang merugikan.

Melalui ulasan tersebut, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIMMA diajak untuk lebih kritis dalam memproduksi maupun mengonsumsi konten-konten yang beredar di media sosial.

Kemampuan untuk membedakan antara opini subjektif masyarakat dan berita faktual yang telah terverifikasi adalah skill yang terus diasah dalam kurikulum prodi. Hal ini bertujuan agar mahasiswa siap menjadi garda terdepan dalam menjaga sehatnya ekosistem informasi digital di Indonesia yang saat ini sedang mengalami transisi besar-besaran.

Upaya berbagi perspektif dari dosen prodi ini diharapkan mampu meningkatkan literasi digital dan standar moral bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIMMA dalam berkarya.

Prodi berkomitmen untuk terus menghadirkan wacana-wacana kritis yang relevan dengan perkembangan industri media saat ini. Dengan membekali mahasiswa pemahaman tentang etika jurnalisme di era deepfake, diharapkan lulusan prodi mampu menjadi produsen konten yang tidak hanya viral, tetapi juga kredibel dan bermanfaat bagi masyarakat.

Source by: Kompasiana.com Lintang Muliawanti: POV Dosen UNIMMA tentang Gelombang UGC: Menjaga Etika Jurnalisme di Era Deepfake