Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) mengambil langkah nyata di luar kelas dengan melakukan observasi lapangan mendalam pada perhelatan akbar Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo ke-XVI Tahun 2025. Bertempat di Universitas Tidar (Untidar), kunjungan ini menjadi studi kasus penting dan krusial dalam mata kuliah Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
KMI Expo XVI, yang menghadirkan lebih dari 475 tim wirausaha dari 270 Perguruan Tinggi se-Indonesia, dikategorikan sebagai event nasional berskala masif. Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIMMA, event ini adalah laboratorium hidup untuk menganalisis kompleksitas pengelolaan acara besar.
Fokus utama observasi mahasiswa adalah membedah seluruh aspek penyelenggaraan, mulai dari konsep acara yang mengedepankan inovasi wirausaha, manajemen kepesertaan ratusan tim, optimalisasi venue di Untidar untuk menampung ribuan peserta dan pengunjung, hingga strategi kolaborasi dan sponsorship yang melibatkan Pemerintah Kota Magelang dan berbagai pihak swasta.
Dosen pengampu mata kuliah MICE, Dwi Susanti, S.I.Kom., M.A., menegaskan signifikansi kegiatan ini sebagai jembatan antara teori dan praktik.
“KMI Expo adalah laboratorium nyata bagi mahasiswa Ilkom. Mereka tidak hanya melihat, tetapi harus menganalisis bagaimana konsep acara diimplementasikan, bagaimana logistik venue disiapkan untuk ribuan orang, dan bagaimana kolaborasi dengan Pemkot Magelang dan pihak sponsor berjalan sukses. Analisis ini melengkapi teori MICE yang didapatkan di kelas,” ujar Dwi Susanti.
Dalam tugas lapangan ini, mahasiswa UNIMMA terlibat aktif mengamati langsung dinamika acara dan melakukan serangkaian wawancara. Target wawancara mencakup panitia penyelenggara untuk memahami alur koordinasi, tenant (peserta pameran) untuk menggali pengalaman kepesertaan, dan pengunjung untuk mengukur dampak serta keberhasilan event secara keseluruhan.
Salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIMMA, Choirunisya Aulia Puteri, merasakan manfaat langsung dari observasi di tengah padatnya jadwal KMI Expo.
“Melihat secara langsung bagaimana event sebesar ini dijalankan, mulai dari rundown yang padat hingga koordinasi antar divisi panitia, benar-benar membuka wawasan kami tentang manajemen komunikasi krisis dan event MICE. Ini jauh lebih berdampak daripada hanya membaca buku teori,” kata Choirunisya.
Kunjungan ini merupakan bagian integral dari kurikulum yang bertujuan membekali mahasiswa dengan kompetensi praktis. Studi kasus KMI Expo 2025 diharapkan dapat menghasilkan laporan analisis MICE yang komprehensif.
Laporan ini nantinya akan menjadi modal berharga bagi lulusan Ilmu Komunikasi UNIMMA yang bercita-cita berkarier di industri event organizer (EO), komunikasi bisnis, dan public relations, membuktikan bahwa mereka siap menghadapi tantangan pengelolaan event berskala besar.
Produk inovasi dari program Pengabdian kepada Masyarakat-Pemberdayaan Wilayah (PKM PW) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), “Paya Kress” keripik kering pepaya olahan Pokdarwis Desa Sumber Arum tampil memukau dan menarik perhatian pengunjung di ajang Kedu Innovation Expo 2025. Produk unggulan ini dipamerkan di booth UNIMMA dilaksanakan pada Rabu sampai dengan Kamis (19–20/11), di halaman Gedung Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tidar (UNTIDAR), Magelang.
Baca Juga: UNIMMA Kuatkan UMKM Wisata Tempuran lewat Inovasi Produk Pepaya Unggulan
“Paya Kress” merupakan produk olahan pangan yang berasal dari buah pepaya lokal. Inovasi ini digagas oleh Tim PKM-PW UNIMMA sebagai solusi untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pepaya di tingkat desa melalui diversifikasi produk. Produk ini diproduksi dan dikembangkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sumber Arum, Kecamatan Tempuran, Magelang, mitra pengabdian tim UNIMMA. Kehadiran produk ini di KMI Expo merupakan wujud implementasi hasil riset perguruan tinggi untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIMMA mengawal partisipasi UNIMMA pada Kedu Innovation Expo 2025. Melalui booth yang disediakan, LPPM memamerkan beragam inovasi hasil PKM dari seluruh program studi, termasuk produk unggulan ‘Paya Kress’
Dr. Retno Rusdjijati, M.Kes, Ketua LPPM UNIMMA, menyampaikan bahwa partisipasi ini menjadi langkah penting dalam memperluas jangkauan dan kebermanfaatan inovasi kampus.
“Melalui expo ini, kami ingin memperkenalkan produk-produk hasil riset dan pengabdian UNIMMA kepada masyarakat luas. Harapannya, karya-karya inovatif ini tidak hanya dikenal, tetapi juga membuka peluang kerja sama dan pengembangan lebih lanjut. Khusus untuk masyarakat dampingan yang telah mendapatkan pelatihan kewirausahaan, kami ingin produk mereka semakin dikenal dan memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Dr. Retno juga menegaskan bahwa UNIMMA terus mendorong budaya riset yang aplikatif dan solutif.
“Kami di LPPM ingin memastikan bahwa inovasi yang dilakukan dosen peneliti di UNIMMA tidak hanya berhenti pada laporan penelitian, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan lapangan. Kegiatan seperti ini menjadi wadah penting untuk mempertemukan para inovator dengan pihak yang dapat memanfaatkan dan mengembangkan produk secara berkelanjutan,” tambahnya.
Baca Juga: UNIMMA Tampilkan Inovasi Riset dan Pengabdian di Kedu Innovation Expo 2025
Proyek “Paya Kress” sendiri dipimpin oleh Dwi Susanti, S.I.Kom., M.A., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UNIMMA, dengan dukungan kolaborasi multidisiplin. Anggota tim terdiri dari Lintang Muliawanti, S.I.Kom., M.A., (Ilmu Komunikasi UNIMMA), Dr. Zulfikar Bagus Pambuko, S.E.I., M.E.I (Hukum Ekonomi Syariah UNIMMA), serta Nenden Nur Annisa, S.E., M.M. dari Universitas Widya Husada.
Tim juga melibatkan mahasiswa sebagai bentuk nyata pembelajaran berbasis masyarakat yaitu Miftakhul Wahyu Ragil Raditya dan Aurelia Rahma Niken dari Ilmu Komunikasi, serta Najmah Nafisah dan Arum Yunita dari Hukum Ekonomi Syariah.
Proses inisiasi produk ini dilakukan melalui serangkaian pelatihan dan pendampingan intensif kepada Pokdarwis Desa Sumber Arum. Pendampingan tersebut mencakup aspek teknis produksi, pengemasan (packaging).
Keikutsertaan “Paya Kress” di pameran inovasi ini menegaskan komitmen UNIMMA dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
Tim mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) turut ambil bagian dalam ajang bergengsi Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo XVI Tahun 2025, yang digelar pada (19–20/11) di Universitas Tidar (Untidar), Magelang. Kegiatan ini merupakan puncak pelaksanaan Program Pengembangan Usaha Mahasiswa (P2MW) dan mempertemukan ratusan wirausahawan muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Tim Ilkom UNIMMA berhasil lolos seleksi nasional P2MW berdasarkan SK Kemdiktisaintek Nomor 4179/B2/DT.01.03/2025, dengan membawa inovasi produk mainan edukatif berbahan clay yang ramah anak dan dirancang untuk mendukung perkembangan motorik halus.
Tim yang menamakan diri MIMI CLAY ini diketuai oleh Jihan Ika Ayuningtyas, dengan anggota tim Rifan Dzaky Widyadhana, Audia Ananda Saputri, Salma Aliya Nur Annisa, dan Zurayda Rizalia Putri. Produk mereka menonjol karena tidak hanya menawarkan nilai hiburan, tetapi juga fungsi edukatif yang relevan dengan kebutuhan tumbuh kembang anak usia dini.
Ketua tim, Jihan Ika Ayuningtyas, mengungkapkan antusiasme dalam mengikuti kompetisi berskala nasional tersebut. “Atmosfer kompetisi yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai universitas membuat kami semakin bersemangat. Respons positif terhadap inovasi kami menjadi dorongan besar untuk terus mengembangkan produk ini,” ujarnya.
Keikutsertaan Tim MIMI CLAY di KMI Expo menjadi bukti keseriusan Program Studi Ilmu Komunikasi UNIMMA dalam mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, serta kompetensi wirausaha berbasis kebutuhan sosial.
Melalui dukungan P2MW, program studi menegaskan kontribusinya dalam mengarahkan mahasiswa untuk tidak hanya belajar teori komunikasi, tetapi juga menerapkannya dalam pengembangan produk yang memiliki nilai sosial, ekonomi, dan keberlanjutan.
Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menunjukkan keseriusannya dalam mendukung bakat non-akademik mahasiswa, khususnya di bidang musik. Komitmen ini terwujud melalui partisipasi gemilang dari OM SEVEN, band dangdut naungan UKM Musik Seven, yang sukses memeriahkan acara besar Expo Kewirausahaan dan Hari Batik Nasional 2025 di Alun-Alun Kota Magelang pada bulan Oktober.
Sebagai salah satu wujud nyata kontribusi UNIMMA dalam pengembangan seni, penampilan OM SEVEN berhasil menarik perhatian ribuan pengunjung. Band ini tidak hanya membawakan lagu-lagu hits dengan aransemen yang unik, tetapi juga secara efektif memperkenalkan “warna musik kampus” sebagai bagian integral dari budaya kreatif UNIMMA.
Fadil Muhammad, S.H., M.H., Pembina UKM Musik Seven, menegaskan bahwa melalui kesempatan ini, UNIMMA berupaya menginkubasi kreativitas mahasiswa. “Kami sangat mendorong mahasiswa untuk bebas berkarya, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islami dan etika kampus,” jelas beliau, menyoroti peran kampus dalam membimbing mahasiswa menjadi seniman yang beretika.
Dandy Saputra, Ketua UKM Musik Seven, juga menggarisbawahi dukungan kampus. Ia melihat panggung tersebut sebagai momen penting untuk meningkatkan profesionalisme dan eksposur band. “Kesempatan ini adalah bukti bahwa UNIMMA selalu menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk berekspresi dan menunjukkan bahwa mereka mampu hadir tidak hanya di ranah akademik, tetapi juga di ruang kreativitas dan hiburan,” katanya.
Secara keseluruhan, UNIMMA terus berupaya keras dalam menyediakan ekosistem yang kondusif bagi mahasiswanya. Melalui berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan komunitas, kampus memastikan bahwa mahasiswa didampingi untuk mengasah bakat, memperluas jaringan, dan mempersiapkan diri menjadi generasi muda yang kreatif dan profesional di masa depan.
Sumber
Kampus perlu strategi komunikasi di era digital. Kemampuan menulis artikel dan berita yang kredibel di media digital merupakan bagian dari upaya menjaga citra institusi.
Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), Dr Lilik Andriyani.
“Di era disrupsi informasi, universitas tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu mengelola reputasi melalui narasi yang konsisten dan positif,” ujarnya.
Lilik menyampaikan ini dalam Pelatihan Penulisan Artikel dan Berita di Media Massa Digital di Aula Rektorat Lantai 3, Senin (8/10/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pimpinan universitas, mulai dari rektor, wakil rektor, dekan hingga wakil dekan, dengan tujuan memperkuat strategi manajemen branding kampus di ranah digital.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama Fajar Junaedi, dan Prof. Muji Setiyo . Fajar Junaedi, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menekankan bahwa branding perguruan tinggi sangat bergantung pada konsistensi pesan yang disampaikan.